Selasa, 27 Januari 2009

Tentang Mereka (Bag. 1)

Ini minggu kedua aku melakukan bimbingan untuk anak2 di sebuah MTS di daerah bogor. Pengalaman baru buat aku dan sebuah pembelajaran baru juga. Kali ini aku mungkin harus belajar banyak dari mereka anak-anak usia belasan tahun itu.

Ku perhatikan wajah mereka satu persatu. semuanya ada 9 orang siswa perempuan. Aku tersenyum memperhatikan mereka. tiba-tiba mataku tertuju pada 1 orang siswa dihadapan ku yang sama sekali tak merespon salamku.Dia hanya menundukkan wajahnya, sibuk dengan coretan yang ia buat dengan berbagai macam goresan dan warna. ada tanda tanya besar di benakku. dalam hati aku berkata: "De, kamu kenapa?", tapi aku menahan diri. Ini baru pertemuan awalku dengan mereka. Maka ku biarkan ia sibuk dengan kertas dan spidol-spidolnya.

1 jam aku berinteraksi dengan mereka. sesekali tawa dan tanya mewarnai diskusi kami. Rabbi..., indah nian aku bisa berkenalan dengan mereka. Anak2 itu membuat aku merasa punya dunia yang berbeda. selesai bimbingan kami solat berjamaah. Usai sholat, semua bersiap-siap pulang. dan ketika satu persatu siswa berpamitan pulang, tiba-tiba siswa yang selama bimbingan asyik dengan coretannya mendekatiku dengan wajah yang penuh kebingungan. air mata seolah tertahan di pelupuk matanya. Aku tersenyum dan menyapa ramah: "Ada apa? Kok belum pulang?" tanya ku selembut mungkin. Dia hanya menjawab singkat:"Aku bingung Ka?". aku menjawab: "mau cerita sama kakak?". Dia mengangguk. "Ya udah cerita aja, Kakak dengerin.

sekitar 10 menit dia hanya terdiam, tiba-tiba ia terduduk di lantai air mata membanjiri pipinya. Ia sama sekali tak bicara. ia hanya menangis dan menangis. Aku merangkulnya dan membiarkan bajuku basah oleh tangisnya. Sampai 20 menit aku tunggu ia pun tak juga bercerita. sampai akhirnya ia bicara."Aku belum bisa cerita sekarang Kak. Tapi suatu saat aku pasti cerita." Aku mengangguk. "Kakak gak tahu apa yang terjadi sama kamu. Tapi kakak harap semua masalah yang kamu hadapi tidak membuat kamu menjadi putus asa. dan satu hal yang harus kamu tahu kakak sayang sama kamu, jangan sedih lagi ya..."

Ia tersenyum. Aku senang melihat binar wajahnya. Ia segera menghapus airmatanya dan berpamitan untuk pulang.

Entah aku harus bersikap seperti apa. Ada apa dengan anak itu. wajahnya memang tak pernah ku lihat ceria dari minggu pertama aku mengenalnya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tertahan. Tapi apa pun itu aku cuma ingin mereka tahu, bahwa mereka gak sendiri. Aku yang harus belajar banyak dari mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar